Cara Screening Saham Undervalued di IDX untuk Pemula

Banyak investor pemula ingin membeli saham yang terlihat murah, tetapi sering bingung harus mulai dari mana. Masalahnya, saham yang tampak murah belum tentu benar-benar undervalued. Bisa saja harga saham turun karena kinerja bisnisnya memang sedang memburuk.
Karena itu, screening saham undervalued sebaiknya dilakukan dengan cara yang sederhana, tetapi tetap logis. Tujuannya bukan untuk langsung membeli saham, melainkan untuk menyaring kandidat saham yang layak dianalisis lebih lanjut. Dengan begitu, kita tidak membuang waktu melihat terlalu banyak saham yang sebenarnya tidak menarik.
Apa Itu Saham Undervalued?
Saham undervalued adalah saham yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya menurut analisis investor. Artinya, harga pasar saham tersebut dinilai lebih rendah dibanding kualitas bisnis atau potensi keuntungan yang dimiliki perusahaan.
Namun, ada satu hal penting yang harus diingat: murah tidak selalu berarti menarik. Ada saham yang murah karena labanya terus menurun, utangnya terlalu besar, bisnisnya sedang bermasalah, atau prospeknya memang kurang bagus. Itulah sebabnya screening tidak cukup hanya melihat harga saham yang turun atau rasio valuasi yang rendah.
Kenapa Screening Saham Itu Penting?
Di Bursa Efek Indonesia ada banyak sekali emiten. Tidak mungkin kita analisis semuanya satu per satu dari nol. Screening membantu kita mempersempit pilihan agar fokus hanya pada saham-saham yang secara valuasi terlihat menarik.
Anggap saja screening ini seperti saringan awal. Setelah sebuah saham lolos dari screening, barulah kita lanjut ke tahap berikutnya seperti membaca laporan keuangan, memahami bisnisnya, membandingkannya dengan kompetitor, lalu menilai apakah valuasinya memang masuk akal.
Cara Screening Saham Undervalued di IDX
Langkah pertama adalah memilih saham yang bisnisnya kamu pahami. Ini sering dianggap sepele, padahal sangat penting. Akan jauh lebih mudah menilai apakah sebuah saham menarik atau tidak kalau model bisnis perusahaannya cukup jelas. Untuk pemula, biasanya sektor seperti perbankan, consumer goods, telekomunikasi, atau emiten besar lebih mudah dipelajari dibanding bisnis yang terlalu kompleks.
Setelah itu, kamu bisa mulai melihat valuasinya. Dua rasio yang paling sering dipakai untuk screening saham undervalued adalah PER dan PBV. PER atau Price to Earnings Ratio membantu kita melihat seberapa mahal harga saham dibanding laba yang dihasilkan perusahaan. Sementara itu, PBV atau Price to Book Value sering dipakai untuk melihat valuasi dibanding nilai buku perusahaan, terutama untuk sektor seperti perbankan.
Secara sederhana, PER atau PBV yang rendah bisa menjadi tanda bahwa saham sedang diperdagangkan di harga yang relatif murah. Tetapi jangan berhenti sampai di situ. Rasio yang rendah belum tentu berarti saham tersebut menarik. Bisa saja pasar memberi valuasi rendah karena memang ada masalah pada bisnisnya.
Karena itu, setelah melihat valuasi, langkah berikutnya adalah memastikan perusahaan tersebut masih menghasilkan laba dan memiliki kinerja yang cukup sehat. Minimal, kamu bisa cek apakah laba bersihnya masih positif, penjualannya tidak turun tajam terus-menerus, dan kondisi modalnya masih cukup baik. Kalau sebuah saham terlihat murah tetapi kinerjanya terus memburuk, kamu perlu ekstra hati-hati karena itu bisa menjadi jebakan value trap.
Selain valuasi dan laba, kamu juga perlu memperhatikan profitabilitas. Salah satu indikator yang cukup berguna adalah ROE atau Return on Equity. Rasio ini membantu kita melihat seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari modal yang dimilikinya. Dalam banyak kasus, saham dengan valuasi murah akan lebih menarik jika profitabilitasnya masih bagus. Sebaliknya, kalau valuasinya murah tetapi ROE-nya lemah, kita perlu bertanya lagi apakah murahnya memang layak.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah utang. Banyak saham yang terlihat murah ternyata punya beban utang yang besar. Ini bisa menjadi risiko serius, terutama saat kondisi bisnis sedang menurun atau suku bunga tinggi. Jadi, saat screening, cobalah lihat juga apakah struktur utangnya masih wajar dan apakah perusahaan masih cukup nyaman menanggung beban bunganya. Saham yang murah tetapi tertekan utang besar biasanya lebih berisiko.
Setelah itu, biasakan membandingkan saham dengan emiten lain di sektor yang sama. Jangan menilai murah atau mahal secara sendirian. Misalnya saat melihat saham bank, bandingkan juga dengan bank lain dari sisi PBV, PER, ROE, pertumbuhan laba, dan kualitas bisnisnya. Dengan begitu, kamu bisa melihat apakah sebuah saham memang lebih murah dari kompetitornya atau sebenarnya valuasi rendah itu juga terjadi di seluruh sektor.
Terakhir, jangan hanya melihat data satu kuartal atau satu tahun. Coba lihat tren kinerja dalam beberapa tahun terakhir. Saham undervalued yang menarik biasanya tetap menunjukkan bisnis yang cukup stabil, meski mungkin sedang kurang disukai pasar. Kalau laba, penjualan, atau marginnya justru terus turun selama beberapa tahun, kamu perlu lebih waspada.
Contoh Screening Sederhana
Untuk pemula, screening saham undervalued bisa dimulai dengan pendekatan sederhana. Cari perusahaan yang valuasinya relatif lebih rendah dibanding rata-rata sektornya, masih mencetak laba, memiliki ROE yang cukup baik, dan utangnya tidak berlebihan. Akan lebih baik lagi kalau bisnisnya memang mudah dipahami dan kinerjanya cukup stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Pendekatan ini memang tidak sempurna, tetapi sudah cukup bagus sebagai langkah awal. Yang penting, jangan menganggap screening sebagai rumus pasti untuk menemukan saham terbaik. Setiap sektor punya karakter yang berbeda, sehingga standar murah atau mahal juga bisa berbeda.
Hati-Hati dengan Value Trap
Salah satu risiko terbesar saat mencari saham undervalued adalah terjebak pada value trap. Ini adalah kondisi ketika sebuah saham terlihat murah, tetapi sebenarnya murah karena fundamental bisnisnya memang bermasalah.
Misalnya, laba perusahaan terus turun, industrinya sedang tertekan, manajemennya kurang baik, atau utangnya terlalu besar. Dalam kondisi seperti itu, valuasi rendah bukan peluang, melainkan peringatan. Karena itu, screening seharusnya hanya menjadi pintu awal. Setelah menemukan kandidat saham, kamu tetap perlu membaca laporan keuangan, memahami prospek bisnis, dan menilai risikonya secara lebih mendalam.
Screening Bukan Akhir, Tapi Awal
Banyak orang berharap screening bisa langsung memberi jawaban saham mana yang layak dibeli. Padahal, screening hanya membantu menyaring kandidat. Setelah itu, pekerjaan analisis yang sesungguhnya justru baru dimulai.
Urutannya sebaiknya sederhana. Mulai dari screening untuk mencari saham yang tampak menarik, lalu lanjutkan dengan membaca laporan keuangan, memahami bisnisnya, membandingkan dengan kompetitor, dan baru kemudian menilai apakah harga saham tersebut benar-benar menarik untuk dipertimbangkan.
Dengan cara berpikir seperti ini, kamu akan lebih terhindar dari keputusan yang terlalu cepat hanya karena melihat saham tampak murah di permukaan.
Penutup
Cara screening saham undervalued di IDX sebenarnya tidak harus rumit. Untuk pemula, yang terpenting adalah mulai dari hal-hal dasar. Cari saham dengan valuasi yang relatif menarik, pastikan perusahaan masih menghasilkan laba, cek profitabilitasnya, waspadai utang berlebihan, dan jangan lupa membandingkannya dengan emiten lain di sektor yang sama.
Yang paling penting, jangan asal mengejar saham murah. Fokuslah pada saham yang murah tetapi masih didukung bisnis yang layak dan fundamental yang cukup sehat. Dari situlah proses analisis bisa dilanjutkan dengan lebih terarah.
Kalau kamu ingin belajar analisis saham dengan lebih praktis dan terstruktur, kamu bisa cek juga produk digital dari Kepoin Saham di sini:
👉 https://lynk.id/kepoinsaham
Di sana tersedia berbagai produk digital yang bisa membantu kamu belajar investasi saham dengan pendekatan yang lebih rapi dan mudah dipahami.
Posting Komentar untuk "Cara Screening Saham Undervalued di IDX untuk Pemula"