Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Analisis Saham BMRI Semester I 2026: Laba Tumbuh Kuat, Kredit Ekspansif—Apakah Valuasinya Masih Murah?

Analisis Fundamental • BMRI Semester I 2026

Analisis Saham BMRI Semester I 2026: Laba Tumbuh Kuat, Kredit Ekspansif—Apakah Valuasinya Masih Murah?


Bank Mandiri membukukan pertumbuhan laba yang kuat pada semester I 2026. Namun, investor tetap perlu membaca perubahan struktur konsolidasi setelah BSI menjadi entitas asosiasi, tekanan margin bunga, likuiditas, kualitas aset, dan kewajaran valuasinya.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp30,41 triliun pada semester I 2026, meningkat dari Rp24,46 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba per saham juga meningkat dari Rp262,02 menjadi Rp326,11.

Meski demikian, angka konsolidasian 2026 tidak dapat dibandingkan secara mentah dengan periode sebelumnya. Sejak 1 Februari 2026, PT Bank Syariah Indonesia Tbk tidak lagi dikonsolidasikan sebagai entitas anak dan berubah menjadi entitas asosiasi. Perubahan ini memengaruhi aset, kredit, simpanan, pendapatan syariah, ekuitas, dan kepentingan nonpengendali.

Catatan penting: laporan keuangan interim ini telah melalui prosedur reviu, bukan audit penuh. Auditor menyatakan tidak menemukan hal yang menyebabkan laporan keuangan diyakini tidak disajikan secara wajar dalam seluruh hal material.
Kesimpulan awal: BMRI menunjukkan kombinasi pertumbuhan laba, efisiensi, dan kualitas aset yang kuat. Dengan ROE berkelanjutan sekitar 20%, penggunaan PBV hanya 1,5 kali dan PER 7–8 kali terlalu konservatif untuk dijadikan nilai wajar utama. Estimasi harga wajar dasar dalam analisis ini berada di sekitar Rp6.300 per saham.

Ringkasan Kinerja Semester I 2026

Laba Pemilik IndukRp30,41 T
EPS Semester IRp326,11
Total AsetRp2.527,57 T
Kredit NetoRp1.592,04 T
IndikatorSemester I 2026Semester I 2025 / Desember 2025Catatan
Pendapatan bunga dan syariah netoRp47,84 triliunRp52,38 triliunTurun 8,7%
Pendapatan operasional lainnyaRp22,37 triliunRp20,78 triliunNaik 7,6%
Beban pencadanganRp5,49 triliunRp6,44 triliunLebih rendah 14,8%
Laba operasionalRp39,06 triliunRp33,44 triliunNaik 16,8%
Laba bersih konsolidasianRp31,63 triliunRp26,85 triliunNaik 17,8%
Laba pemilik entitas indukRp30,41 triliunRp24,46 triliunNaik 24,4%
Total asetRp2.527,57 triliunRp2.829,95 triliunTerpengaruh dekonsolidasi BSI
Total simpanan nasabahRp1.763,17 triliunRp1.816,90 triliunTerpengaruh perubahan konsolidasi

1. Analisis Ekonomi Makro

Pertumbuhan ekonomi masih mendukung permintaan kredit

Lingkungan ekonomi Indonesia pada 2026 masih memberikan peluang pertumbuhan bagi perbankan. Aktivitas korporasi, proyek infrastruktur, kebutuhan modal kerja, konsumsi, serta transaksi digital tetap menjadi sumber permintaan kredit. Kondisi ini relevan bagi Bank Mandiri karena portofolionya memiliki eksposur besar terhadap korporasi, komersial, pemerintah, BUMN, dan rantai pasok perusahaan besar.

Suku bunga tinggi dapat menekan margin

Suku bunga yang bertahan tinggi memberikan dua dampak. Di satu sisi, imbal hasil kredit dan surat berharga dapat tetap tinggi. Di sisi lain, biaya dana juga meningkat karena bank harus bersaing mendapatkan simpanan nasabah.

Oleh karena itu, kemampuan BMRI menjaga dana murah, melakukan repricing kredit, dan mempertahankan kualitas aset menjadi lebih penting daripada hanya mengejar pertumbuhan volume kredit.

Nilai tukar dan inflasi tetap menjadi risiko

Pelemahan rupiah dapat meningkatkan kebutuhan pembiayaan perdagangan, tetapi juga dapat memperbesar risiko debitur yang memiliki utang valuta asing tanpa lindung nilai memadai. Inflasi yang meningkat dapat menambah kebutuhan modal kerja, tetapi berpotensi menekan daya beli dan profitabilitas debitur.

Implikasi bagi BMRI: prospek kredit masih terbuka, tetapi kualitas pertumbuhan akan ditentukan oleh biaya dana, kemampuan debitur, stabilitas margin, dan disiplin manajemen risiko.

2. Analisis Laporan Laba Rugi

Pendapatan bunga bersih turun karena perubahan struktur konsolidasi

Pendapatan bunga dan syariah neto turun dari Rp52,38 triliun menjadi Rp47,84 triliun. Penurunan tersebut tidak tepat apabila langsung dianggap sebagai pelemahan bisnis inti karena laporan pembanding semester I 2025 masih memasukkan pendapatan dan beban BSI.

Beban bunga dan syariah turun lebih cepat daripada pendapatannya, dari Rp29,19 triliun menjadi Rp25,06 triliun. Hal ini membantu menahan penurunan pendapatan bunga bersih.

Pendapatan nonbunga meningkat

Pendapatan operasional lainnya naik dari Rp20,78 triliun menjadi Rp22,37 triliun. Pendapatan provisi dan komisi meningkat menjadi Rp12,75 triliun.

Pertumbuhan fee-based income penting karena dapat mengurangi ketergantungan BMRI pada margin bunga. Sumbernya antara lain berasal dari transaksi digital, cash management, trade finance, kartu, bank garansi, treasury, transfer, dan wealth management.

Beban pencadangan turun

Pembentukan cadangan kerugian penurunan nilai turun dari Rp6,44 triliun menjadi Rp5,49 triliun. Penurunan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan aset produktif belum diikuti kenaikan tekanan risiko kredit yang sebanding.

Efisiensi membaik

Komponen bebanSemester I 2026Semester I 2025Perubahan
Gaji dan tunjanganRp11,19 triliunRp12,96 triliunTurun 13,7%
Umum dan administrasiRp10,67 triliunRp14,28 triliunTurun 25,3%
Beban lainnyaRp5,07 triliunRp5,41 triliunTurun 6,4%
Total beban operasional lainnyaRp26,93 triliunRp32,66 triliunTurun 17,5%

Penurunan beban operasional membantu laba operasional meningkat 16,8% menjadi Rp39,06 triliun meskipun pendapatan bunga dan syariah neto mengalami penurunan.

Laba pemilik induk naik lebih cepat

Laba bersih konsolidasian meningkat 17,8% menjadi Rp31,63 triliun. Laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh lebih tinggi, yaitu 24,4% menjadi Rp30,41 triliun.

Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya laba yang dialokasikan kepada kepentingan nonpengendali setelah BSI tidak lagi dikonsolidasikan. Pada semester I 2025, laba kepentingan nonpengendali mencapai Rp2,40 triliun, sedangkan semester I 2026 turun menjadi Rp1,21 triliun.

Penghasilan komprehensif mengalami tekanan

BMRI mencatat beban penghasilan komprehensif lain Rp3,66 triliun, terutama dari penurunan nilai wajar aset keuangan yang dicatat melalui penghasilan komprehensif lain. Akibatnya, total penghasilan komprehensif turun menjadi Rp27,97 triliun.

Inti analisis laba rugi: kualitas pertumbuhan laba BMRI didukung oleh fee-based income, penurunan pencadangan, dan efisiensi. Namun, investor tetap perlu mengawasi tekanan margin dan volatilitas nilai portofolio surat berharga.

3. Analisis Neraca Keuangan

Total aset turun karena dekonsolidasi BSI

Total aset konsolidasian turun menjadi Rp2.527,57 triliun dari Rp2.829,95 triliun pada akhir 2025. Penurunan tersebut tidak boleh dibaca sebagai kontraksi organik sepenuhnya karena BSI tidak lagi masuk sebagai entitas anak sejak Februari 2026.

Perubahan status BSI terlihat dari kenaikan penyertaan saham menjadi Rp28,88 triliun dari Rp2,35 triliun pada akhir 2025.

Kredit tetap menjadi aset produktif terbesar

Kredit yang diberikan dan piutang atau pembiayaan syariah bruto mencapai Rp1.630,50 triliun. Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai Rp38,46 triliun, kredit neto tercatat Rp1.592,04 triliun.

Porsi kredit yang besar menunjukkan bahwa kinerja BMRI sangat dipengaruhi oleh kemampuan mengelola kualitas debitur, pricing kredit, dan kebutuhan pencadangan.

Dana pihak ketiga didominasi giro dan tabungan

Komponen simpanan nasabah30 Juni 2026
GiroRp636,55 triliun
TabunganRp583,35 triliun
Deposito berjangkaRp543,26 triliun
Total simpanan nasabahRp1.763,17 triliun

Giro dan tabungan secara keseluruhan mencapai sekitar Rp1.219,91 triliun. Struktur ini penting karena dana murah membantu menekan biaya bunga dan mempertahankan margin.

Permodalan tetap kuat

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp284,59 triliun. Total ekuitas konsolidasian tercatat Rp293,02 triliun.

Penurunan ekuitas dibandingkan akhir 2025 antara lain dipengaruhi pembayaran dividen, perubahan kepentingan nonpengendali setelah dekonsolidasi BSI, penyesuaian standar akuntansi, dan kerugian nilai wajar aset keuangan.

4. Analisis Laporan Arus Kas

Arus kas bank harus dibaca berbeda dari perusahaan nonkeuangan. Penyaluran kredit, penerimaan simpanan, pembelian surat berharga, dan transaksi antarbank merupakan bagian dari aktivitas utama bank.

Arus kas operasi negatif

Kas neto yang digunakan untuk aktivitas operasi mencapai Rp103,05 triliun. Pada semester I 2025, aktivitas operasi masih menghasilkan kas Rp97,32 triliun.

Penggunaan kas operasional utamaNilai
Pertumbuhan kredit konvensionalRp98,38 triliun
Pertumbuhan pembiayaan syariahRp4,22 triliun
Efek yang diukur melalui laba rugiRp52,06 triliun
Piutang pembiayaan konsumenRp3,50 triliun
Aset lain-lainRp13,97 triliun

Arus kas negatif tersebut sebagian diimbangi oleh kenaikan giro, tabungan, deposito, dan liabilitas operasional lainnya. Kondisi ini tidak otomatis buruk, tetapi perlu dikaitkan dengan kualitas kredit, likuiditas, dan biaya pendanaan.

Arus kas investasi positif

Aktivitas investasi menghasilkan kas bersih Rp3,11 triliun. BMRI tetap mengeluarkan dana untuk pembelian aset tetap Rp1,28 triliun dan aset takberwujud Rp250 miliar.

Arus kas pendanaan positif

Aktivitas pendanaan menghasilkan kas Rp10,65 triliun. Salah satu faktor utamanya adalah kenaikan liabilitas repo sebesar Rp51,24 triliun.

Pada saat yang sama, BMRI membayar dividen Rp44,47 triliun, membayar efek yang diterbitkan Rp17,44 triliun, serta membayar pinjaman yang diterima Rp71,60 triliun.

Kas dan setara kas menurun

Kas dan setara kas turun dari Rp379,88 triliun pada awal tahun menjadi Rp264,21 triliun pada akhir Juni 2026. Penurunan juga dipengaruhi keluarnya kas Rp36,37 triliun akibat hilangnya pengendalian atas BSI.

Kesimpulan arus kas: BMRI sedang mengalokasikan likuiditas ke aset produktif secara agresif. Investor perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut tetap menghasilkan imbal hasil yang memadai dan tidak meningkatkan ketergantungan pada pendanaan pasar secara berlebihan.

5. Analisis Perbandingan Saham Bank Besar

Dalam kelompok bank besar, BMRI dapat ditempatkan di antara bank dengan valuasi premium seperti BBCA dan bank BUMN lain seperti BBRI serta BBNI. Setiap bank memiliki karakter yang berbeda sehingga perbandingan tidak cukup dilakukan hanya dengan melihat PER atau PBV.

SahamKeunggulan utamaRisiko utamaKarakter valuasi
BMRIROE kuat, bisnis korporasi dan transaksi besar, kualitas aset baik.Tekanan margin, konsentrasi pemerintah/BUMN, likuiditas.Layak mendapat premi moderat dibanding bank BUMN dengan ROE lebih rendah.
BBCACASA tinggi, konsistensi laba, kualitas aset dan franchise kuat.Valuasi premium dan potensi upside lebih terbatas saat harga mahal.Biasanya diperdagangkan pada multiple tertinggi.
BBRIJaringan mikro dan ultra mikro, margin tinggi, basis nasabah luas.Biaya kredit dan risiko segmen mikro lebih sensitif.Menarik saat kualitas kredit membaik dan pencadangan normal.
BBNIPotensi rerating dan valuasi sering lebih rendah.ROE dan skala ekosistem biasanya di bawah BMRI.Diskon dapat bertahan jika profitabilitas belum menyamai pesaing.

Dengan ROE yang berada di sekitar 20%, kualitas kredit yang kuat, dan pertumbuhan laba dua digit, BMRI tidak tepat dinilai menggunakan multiple yang sama dengan bank ber-ROE rendah atau bank yang kualitas asetnya sedang tertekan.

6. Prospek Bank Mandiri ke Depan

Ekosistem korporasi

Hubungan dengan korporasi, pemerintah, dan BUMN membuka peluang kredit, payroll, cash management, trade finance, bank garansi, pembiayaan vendor, dan kredit konsumer.

Digitalisasi

Livin’ dan Kopra dapat memperbesar transaksi, fee-based income, CASA, efisiensi, serta peluang cross-selling.

Efisiensi

Penurunan beban operasional menunjukkan potensi operating leverage apabila pendapatan tumbuh tanpa diikuti kenaikan biaya yang sama cepatnya.

Pembiayaan berkelanjutan

Pembiayaan hijau, energi, kendaraan listrik, UMKM, dan proyek sosial dapat menjadi sumber pertumbuhan jangka panjang.

Katalis positif: stabilisasi NIM, pertumbuhan fee-based income, efisiensi yang berlanjut, kualitas kredit tetap kuat, pertumbuhan DPK yang mengimbangi kredit, dan rerating valuasi bank BUMN.
Risiko utama: penurunan NIM, kenaikan biaya dana, likuiditas yang semakin ketat, konsentrasi pembiayaan pemerintah dan BUMN, volatilitas nilai tukar, risiko suku bunga, serta kebijakan sebagai bank milik negara.

7. Analisis Harga Wajar Saham BMRI

Valuasi saham bank seharusnya disesuaikan dengan kemampuan menghasilkan ROE, kualitas kredit, pertumbuhan laba, biaya modal, dan prospek jangka panjang. Dalam analisis ini digunakan harga acuan Rp4.130. Harga tersebut bukan harga real-time sehingga harus diperbarui sebelum artikel diterbitkan.

Data dasar valuasi

KomponenNilai
Laba semester I 2026 untuk pemilik indukRp30,41 triliun
EPS semester I 2026Rp326,11
EPS disetahunkanRp652,22
EPS normalisasiRp650
Ekuitas pemilik entitas indukRp284,59 triliun
Jumlah saham±93,33 miliar lembar
Book value per share±Rp3.049
Harga saham acuanRp4.130
PER forward indikatif±6,35 kali
PBV indikatif±1,35 kali

Menentukan PBV wajar berdasarkan ROE

Justified PBV = (ROE − g) ÷ (Cost of Equity − g)

Asumsi dasar yang digunakan:

  • ROE berkelanjutan: 20%
  • Pertumbuhan jangka panjang: 5%
  • Cost of equity: 12%
Justified PBV = (20% − 5%) ÷ (12% − 5%) = 2,14 kali

Hasil tersebut menunjukkan bahwa bank yang mampu menghasilkan ROE sekitar 20% secara berkelanjutan secara teori layak diperdagangkan di atas 2 kali nilai bukunya.

Namun, BMRI tetap perlu mendapatkan diskon karena tekanan NIM, LDR yang tinggi, risiko BUMN, konsentrasi pembiayaan, perubahan konsolidasi BSI, serta ketidakpastian makro. Karena itu, kisaran PBV wajar ditetapkan sebesar 1,9–2,2 kali.

PBV wajarPerhitunganEstimasi harga
1,9 kali1,9 × Rp3.049Rp5.793
2,0 kali2,0 × Rp3.049Rp6.098
2,1 kali2,1 × Rp3.049Rp6.403
2,2 kali2,2 × Rp3.049Rp6.708

Berdasarkan metode PBV, kisaran harga wajar BMRI berada di sekitar Rp5.800–Rp6.700 per saham.

Menentukan PER wajar berdasarkan kualitas laba

PER = PBV ÷ ROE

Dengan justified PBV 2,14 kali dan ROE 20%, justified PER berada di sekitar 10,7 kali. Setelah memperhitungkan risiko BUMN, tekanan margin, suku bunga, dan likuiditas, kisaran PER wajar ditetapkan sebesar 9,5–11 kali.

PER wajarPerhitungan dengan EPS Rp650Estimasi harga
9,5 kali9,5 × Rp650Rp6.175
10 kali10 × Rp650Rp6.500
10,5 kali10,5 × Rp650Rp6.825
11 kali11 × Rp650Rp7.150

Berdasarkan metode PER, kisaran harga wajar BMRI berada di sekitar Rp6.200–Rp7.150 per saham.

Skenario harga wajar BMRI

Bear Case Rp5.350 ROE turun, NIM tertekan, biaya dana naik.
Base Case Rp6.300 ROE 19%–20%, NPL terkendali, laba stabil.
Bull Case Rp7.250 ROE meningkat, efisiensi dan fee income menguat.
SkenarioPBVNilai PBVPERNilai PERNilai gabungan
Bear case1,7 kaliRp5.1838,5 kaliRp5.525Rp5.350
Base case2,0 kaliRp6.09810 kaliRp6.500Rp6.300
Bull case2,3 kaliRp7.01311,5 kaliRp7.475Rp7.250

Potensi terhadap harga acuan

SkenarioHarga wajarPotensi terhadap Rp4.130
Bear caseRp5.350+29,5%
Base caseRp6.300+52,5%
Bull caseRp7.250+75,5%

Potensi tersebut belum memperhitungkan dividen. Besarnya upside bukan berarti harga saham pasti mencapai nilai tersebut. Harga pasar dapat tetap berada di bawah nilai wajar dalam waktu lama apabila sentimen, suku bunga, nilai tukar, atau risiko kebijakan masih negatif.

Kesimpulan valuasi: kisaran nilai wajar BMRI diperkirakan berada pada Rp5.350–Rp7.250 per saham, dengan estimasi dasar sekitar Rp6.300 per saham. PBV 1,5 kali dan PER 7–8 kali lebih tepat digunakan sebagai skenario sangat konservatif, bukan nilai wajar utama.

Kesimpulan Akhir

Bank Mandiri menutup semester I 2026 dengan kinerja yang secara umum kuat. Laba pemilik induk meningkat, pencadangan turun, efisiensi membaik, dan kualitas aset tetap menjadi kekuatan utama.

Kekuatan BMRI terletak pada skala bisnis, hubungan korporasi, ekosistem pemerintah dan BUMN, transaction banking, digitalisasi, serta kemampuan menghasilkan ROE tinggi.

Investor tetap perlu memperhatikan tekanan NIM, likuiditas, penggunaan pendanaan pasar, konsentrasi kredit, nilai tukar, suku bunga, dan perubahan penyajian setelah BSI menjadi entitas asosiasi.

Dengan menggunakan PBV wajar sekitar 2 kali dan PER wajar 10 kali, estimasi harga wajar dasar BMRI berada di sekitar Rp6.300 per saham.

Indikator yang Perlu Dipantau

  • Pertumbuhan kredit dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga.
  • CASA dan biaya dana.
  • NIM dan kemampuan repricing kredit.
  • LDR dan kebutuhan pendanaan pasar.
  • NPL, loan at risk, cost of credit, dan coverage.
  • BOPO, cost-to-income ratio, ROA, dan ROE.
  • Pertumbuhan fee-based income.
  • Kontribusi Livin’, Kopra, dan ekosistem transaksi.
  • Eksposur pemerintah, BUMN, dan proyek strategis.
  • Dampak perubahan status BSI terhadap laba dan nilai investasi.
  • Kebijakan dividen dan kecukupan modal.

Pelajari Analisis Saham Lebih Mendalam

Buku panduan analisis saham perbankan dan batu bara dapat dibeli melalui Kepoin Saham.

Disclaimer: Analisis ini dibuat hanya untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli, menjual, atau menahan saham BMRI maupun saham lainnya. Perhitungan harga wajar menggunakan asumsi ROE, pertumbuhan jangka panjang, cost of equity, EPS normalisasi, PBV, dan PER. Perubahan asumsi dapat menghasilkan estimasi harga wajar yang berbeda secara material. Untuk memperoleh informasi lebih mendalam, pembaca tetap harus melakukan analisis sendiri terhadap laporan keuangan lengkap, catatan atas laporan keuangan, paparan publik, kualitas manajemen, risiko bisnis, kebijakan pemerintah, kondisi industri, dan valuasi sebelum mengambil keputusan investasi.
Sumber utama: Laporan Keuangan Konsolidasian Interim PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dan entitas anak untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Harga saham acuan, asumsi valuasi, serta data perbandingan pasar perlu diperbarui kembali sebelum artikel diterbitkan.

Posting Komentar untuk "Analisis Saham BMRI Semester I 2026: Laba Tumbuh Kuat, Kredit Ekspansif—Apakah Valuasinya Masih Murah?"