Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bab 3. Kenapa Harga Saham Bisa Naik Turun? Penjelasan Sederhana untuk Pemula

Kenapa harga saham bisa naik turun? Simak penjelasan sederhana untuk pemula tentang pengaruh kinerja perusahaan, ekonomi, berita, dan sentimen pasar.

Banyak orang yang baru mulai belajar saham sering bertanya hal yang sama: kenapa harga saham bisa naik turun terus? Kadang pagi harganya naik, siang turun, besok naik lagi, lalu minggu depan malah anjlok. Buat orang awam, pergerakan ini sering terlihat membingungkan.

Padahal, kalau dipahami pelan-pelan, alasan harga saham naik turun sebenarnya cukup masuk akal. Harga saham bergerak karena ada banyak orang yang setiap hari membeli dan menjual saham. Saat minat beli lebih besar, harga biasanya naik. Saat minat jual lebih besar, harga biasanya turun.

Namun tentu saja ceritanya tidak sesederhana itu. Di balik keputusan orang untuk membeli atau menjual saham, ada banyak faktor yang memengaruhi. Ada yang berasal dari kondisi perusahaan, ada yang berasal dari situasi ekonomi, dan ada juga yang hanya dipengaruhi rasa takut atau rasa percaya diri pelaku pasar.

Harga saham bergerak karena ada transaksi

Saham diperdagangkan di pasar. Di sana ada orang yang ingin membeli dan ada orang yang ingin menjual. Harga saham terbentuk dari pertemuan antara keduanya.

Bayangkan saja seperti pasar biasa. Kalau banyak orang mencari suatu barang, sementara barangnya terbatas, harga cenderung naik. Sebaliknya, kalau banyak orang ingin menjual tetapi pembelinya sedikit, harga cenderung turun. Kurang lebih begitu juga cara kerja saham.

Jadi, harga saham bukan ditentukan secara asal. Harga bergerak karena ada aktivitas nyata dari banyak pelaku pasar yang memasukkan antrian beli dan antrian jual.

Kenapa orang jadi mau membeli atau menjual saham?

Inilah inti dari pergerakan harga saham. Orang membeli saham karena merasa saham itu menarik. Orang menjual saham karena merasa saham itu kurang menarik, terlalu mahal, atau mereka sedang butuh mengamankan uang.

Lalu apa yang membuat sebuah saham terlihat menarik atau tidak? Jawabannya bisa bermacam-macam.

Kadang orang tertarik membeli karena perusahaan mencatat laba yang bagus. Kadang karena bisnisnya sedang berkembang. Kadang karena ada berita positif. Kadang karena ekonomi sedang membaik. Tetapi ada juga yang membeli hanya karena melihat harga sedang naik dan berharap bisa ikut untung.

Sebaliknya, orang bisa menjual karena laba perusahaan turun, ada kabar buruk, kondisi ekonomi tidak menentu, atau hanya karena takut harga akan turun lebih dalam.

Jadi, naik turunnya harga saham sebenarnya adalah hasil dari perubahan minat dan perasaan pasar terhadap suatu perusahaan.

Kinerja perusahaan sangat berpengaruh

Salah satu faktor paling penting yang memengaruhi harga saham adalah kondisi perusahaan itu sendiri. Kalau sebuah perusahaan menunjukkan kinerja yang baik, pasar biasanya akan menilai perusahaan itu lebih menarik.

Misalnya, perusahaan berhasil meningkatkan penjualan, laba bersih tumbuh, utang terkendali, dan prospek bisnisnya terlihat bagus. Kondisi seperti ini bisa membuat banyak investor tertarik membeli sahamnya. Ketika permintaan naik, harga saham pun bisa ikut naik.

Sebaliknya, kalau perusahaan mengalami penurunan laba, penjualan melemah, beban utang besar, atau bisnisnya mulai bermasalah, pasar bisa merespons negatif. Banyak orang jadi ragu untuk memegang saham tersebut. Saat lebih banyak yang menjual, harga saham biasanya turun.

Karena itulah, harga saham sering bergerak setelah laporan keuangan keluar. Pasar sedang menilai apakah kinerja perusahaan sesuai harapan, lebih baik, atau justru lebih buruk.

Ekspektasi juga sangat berpengaruh

Menariknya, harga saham tidak hanya bergerak karena kondisi perusahaan saat ini, tetapi juga karena harapan terhadap masa depannya.

Misalnya ada perusahaan yang saat ini labanya belum terlalu besar, tetapi pasar percaya bahwa bisnisnya punya masa depan cerah. Karena harapan itu, banyak orang tetap mau membeli sahamnya. Akibatnya, harga bisa naik.

Sebaliknya, ada juga perusahaan yang saat ini masih untung, tetapi pasar mulai khawatir bahwa ke depan pertumbuhannya akan melambat. Walaupun kondisi sekarang masih terlihat baik, harga sahamnya bisa tetap turun karena pasar sedang memikirkan masa depan.

Itulah kenapa di pasar saham, yang dinilai bukan hanya apa yang terjadi hari ini, tetapi juga apa yang mungkin terjadi besok, bulan depan, atau beberapa tahun lagi.

Berita bisa membuat harga bergerak cepat

Harga saham juga sangat sensitif terhadap berita. Kalau muncul kabar baik, pasar bisa langsung bereaksi. Misalnya perusahaan mendapat kontrak besar, membagikan dividen menarik, melakukan ekspansi, atau sektor usahanya sedang diuntungkan oleh situasi tertentu.

Sebaliknya, berita buruk juga bisa membuat harga saham turun. Misalnya ada kasus hukum, penurunan laba, perubahan aturan pemerintah, masalah manajemen, atau kondisi ekonomi yang memburuk.

Kadang reaksi pasar terhadap berita bisa sangat cepat. Bahkan sebelum banyak orang sempat membaca detailnya, harga saham sudah bergerak terlebih dahulu karena pelaku pasar langsung merespons informasi yang muncul.

Namun penting dipahami juga bahwa tidak semua berita akan berdampak besar. Pasar biasanya lebih sensitif pada berita yang dianggap bisa memengaruhi masa depan bisnis perusahaan.

Kondisi ekonomi ikut memengaruhi

Harga saham bukan hanya dipengaruhi oleh perusahaan, tetapi juga oleh kondisi ekonomi secara umum. Saat ekonomi sedang tumbuh, daya beli masyarakat membaik, usaha lebih berkembang, dan banyak perusahaan punya peluang mencetak kinerja yang lebih bagus. Situasi seperti ini biasanya membuat pasar saham lebih optimis.

Sebaliknya, saat ekonomi melambat, suku bunga naik, inflasi tinggi, atau nilai tukar bergejolak, pasar bisa menjadi lebih hati-hati. Investor khawatir laba perusahaan akan tertekan. Akibatnya, banyak saham bisa ikut turun, bahkan kalau perusahaan tertentu sebenarnya masih cukup baik.

Jadi, kadang harga saham turun bukan karena perusahaannya tiba-tiba jelek, tetapi karena suasana pasar secara keseluruhan sedang tidak nyaman.

Sentimen pasar sering membuat harga bergerak lebih tajam

Selain faktor bisnis dan ekonomi, ada satu hal lagi yang sangat kuat di pasar saham, yaitu sentimen. Sentimen adalah suasana hati pasar. Kadang pasar sedang optimis, kadang sedang takut, kadang sedang terlalu semangat.

Saat sentimen pasar positif, banyak orang lebih berani membeli. Harga saham bisa naik cukup cepat karena rasa percaya diri sedang tinggi. Saat sentimen negatif, orang jadi mudah panik dan memilih menjual. Harga saham pun bisa turun tajam.

Karena itu, di pasar saham sering terjadi pergerakan yang kelihatannya berlebihan. Ada saham yang naik terlalu tinggi karena euforia, dan ada juga yang turun terlalu dalam karena kepanikan. Dalam jangka pendek, sentimen bisa sangat berpengaruh.

Tetapi dalam jangka panjang, biasanya harga saham akan lebih banyak mengikuti kualitas bisnis perusahaan itu sendiri.

Kenapa saham bagus kadang tetap turun?

Ini juga sering membuat pemula bingung. Ada perusahaan yang kelihatannya bagus, labanya ada, bisnisnya jelas, tetapi harga sahamnya tetap turun. Kenapa bisa begitu?

Jawabannya karena harga saham tidak hanya dipengaruhi kualitas perusahaan, tetapi juga harga yang sudah dibayar pasar. Bisa jadi perusahaan itu memang bagus, tetapi sebelumnya harga sahamnya sudah naik terlalu tinggi. Saat pasar merasa harganya sudah terlalu mahal, harga bisa turun walaupun bisnisnya tetap baik.

Selain itu, saham bagus juga bisa ikut turun saat pasar secara umum sedang panik. Dalam kondisi seperti itu, investor kadang menjual banyak saham sekaligus, termasuk saham perusahaan yang sebenarnya sehat.

Jadi, perusahaan bagus tidak selalu berarti harga sahamnya akan selalu naik setiap saat.

Kenapa saham jelek kadang malah naik?

Hal sebaliknya juga sering terjadi. Ada saham yang fundamentalnya lemah, tetapi harganya naik cepat. Ini biasanya terjadi karena sentimen, rumor, spekulasi, atau aksi beli dari pelaku pasar yang mengejar momentum.

Dalam jangka pendek, harga saham memang bisa bergerak tidak selalu sesuai kualitas bisnis. Ada kalanya harga lebih banyak dipengaruhi oleh psikologi pasar dibanding nilai wajarnya.

Tetapi dalam jangka panjang, saham dengan kualitas bisnis yang buruk biasanya akan sulit mempertahankan kenaikan kalau tidak ada perbaikan nyata di perusahaannya.

Jadi, apakah harga saham selalu logis?

Tidak selalu, terutama dalam jangka pendek.

Dalam jangka pendek, harga saham bisa sangat dipengaruhi oleh berita, sentimen, rumor, dan emosi pasar. Kadang pergerakannya terasa terlalu cepat atau terlalu tajam. Itu sebabnya banyak pemula merasa saham sulit ditebak.

Namun dalam jangka panjang, pasar biasanya akan semakin melihat hal yang lebih mendasar, yaitu kualitas bisnis, pertumbuhan laba, kemampuan perusahaan menghasilkan uang, dan prospek masa depannya.

Karena itu, orang yang belajar saham perlu memahami bahwa harga saham harian tidak selalu mencerminkan nilai sebenarnya secara sempurna. Kadang pasar terlalu optimis, kadang terlalu pesimis.

Cara paling sederhana memahaminya

Kalau ingin memahami dengan cara yang paling mudah, bayangkan saja seperti ini.

Harga saham naik ketika semakin banyak orang percaya bahwa saham itu layak dibeli. Harga saham turun ketika semakin banyak orang merasa saham itu sebaiknya dijual atau dihindari.

Kepercayaan itu bisa muncul karena perusahaan bagus, laba naik, ekonomi membaik, atau prospek masa depan cerah. Sebaliknya, ketakutan bisa muncul karena kinerja memburuk, berita negatif, ekonomi melemah, atau harga dianggap sudah terlalu mahal.

Jadi pada akhirnya, harga saham adalah cerminan dari gabungan antara fakta, harapan, dan emosi pasar.

Apa yang sebaiknya dipahami oleh pemula?

Bagi pemula, hal terpenting bukan menebak harga besok akan naik atau turun. Yang lebih penting adalah memahami kenapa harga bisa bergerak, lalu belajar membedakan mana pergerakan yang disebabkan oleh faktor jangka pendek dan mana yang benar-benar berkaitan dengan kondisi bisnis.

Kalau seseorang hanya fokus pada harga yang bergerak setiap hari, ia akan mudah panik. Tetapi kalau ia mulai memahami penyebab di balik pergerakan itu, biasanya ia akan lebih tenang dalam melihat saham.

Belajar saham bukan berarti harus selalu tahu arah harga setiap saat. Belajar saham berarti memahami bahwa harga bergerak karena ada alasan, dan alasan itu bisa berasal dari perusahaan, ekonomi, maupun psikologi pasar.

Penutup

Jadi, kenapa harga saham bisa naik turun? Karena saham diperdagangkan setiap hari oleh banyak orang yang punya pandangan, harapan, dan rasa takut yang berbeda-beda. Ketika minat beli lebih besar, harga cenderung naik. Ketika minat jual lebih besar, harga cenderung turun.

Di balik itu, ada banyak hal yang memengaruhi keputusan pasar, mulai dari kinerja perusahaan, prospek bisnis, berita, kondisi ekonomi, sampai sentimen investor. Dalam jangka pendek, harga saham bisa sangat dipengaruhi emosi pasar. Tetapi dalam jangka panjang, kualitas perusahaan biasanya akan jauh lebih menentukan.

Kalau Anda masih pemula, tidak perlu takut melihat harga saham yang bergerak naik turun. Justru dari situ proses belajar dimulai. Semakin Anda paham penyebabnya, semakin mudah Anda melihat pasar dengan lebih tenang dan masuk akal.


Bab Sebelumnya

Posting Komentar untuk "Bab 3. Kenapa Harga Saham Bisa Naik Turun? Penjelasan Sederhana untuk Pemula"